Tips Pantaskan diri Mendekatkan Jodoh

Menjadi istri adalah sebuah kehormatan dan kesempatan yang sangat berharga bagi saya, dimana saya sangat teramat bersyukur kepada Allah SWT akan hal tersebut. Menikah pada orang yang tepat dan waktu yang tepat adalah sebuah misteri bagi saya.

Saya ingat beberapa kali pernah jatuh kelubang yang sama berwujud kata “cinta” berbalut status “perkenalan” yang dikenal dengan kata “pacaran” dan “berkomitmen” namun ujung-ujungnya harus menata hati karena rasa sakit dalam mengakhiri sebuah hubungan. Hingga akhirnya saya memantapkan diri untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan status apapun namanya dengan lelaki manapun, namun tetap ber-ikhtiar secara wajar, padahal pada kenyataannya sering saya tenggelam dalam “kode-kode” yang saya buat sendiri. Berharap  ada lelaki yang menyukai saya dan lantas dengan penuh keberanian menjumpai ayah saya untuk melamar. Dan berikut kisah saya, semoga bisa bermanfaat untuk yang sedang memantaskan diri untuk menikah :

Niat Karena Allah

Saya mencoba menjadi pribadi yang terus memperbaiki diri dengan meningkatkan ibadah kepadaNya, namun saya yakin dosa dosa terus saya rangkai karena hati saya masih saja bermain dengan sebuah harapan. Tahun 2015 saya pertamakali menuliskan resolusi “Menikah” di agenda pribadi saya, dan saya utarakan kepada beberapa teman dekat saya, Alhamdulillah mereka meng – Aamiin – kannya.

Resolusi ibarat sebuah mimpi bagi saya, yang secara langsung saya doakan, hingga saya harus kembali merasakan sakit karena lelaki yang saya duga adalah jodoh saya ternyata bukan jodoh saya. Sulit menentukan jodoh sebelum seorang laki-laki benar-benar melamar seorang wanita. Ya tetapi mulailah dengan berniat untuk menikah karena Allah swt, untuk beribadah kepadaNya, bukan karena kebelet nikah, sudah cukup umur, atau malah karena frustasi jomblo terus.

Berikhtiar secara Wajar dan Syar’i

awal tahun 2016 saya curhat pada salah seorang teman dekat tentang keinginan saya untuk mengikhlaskan sebuah nama yang saya anggak jodoh saya ternyata nama itu akan melangsungkan pertunangan dengan perempuan lain. Curhatan saya pun berujung pada permintaan “kalau ada kenalin aku dong ke temenmu, mana tau cocok” kurang lebih minta dicomblangi dengan cara terhormat maksudnya. Seolah dayung bersambut teman saya malah mengatakan “iya sih, sebenarnya aku mau kenalin kamu ke abang senior kita juga waktu dikampus” teman saya menyebutkan nama salah seorang senior saat dikampus dulu, namun saya sama sekali tidak mengenal nama tersebut. Foto pun dikirim teman saya untuk membantu saya mengingat nama lelaki yang akan dikenalkan kepada saya, namun tetap saja saya tidak mengenalnya.

Hingga singkat kisah, teman saya langsung membeli pin bbm pribadi saya kepada abang senior yang hendak dikenalkan kepada saya. Saya sudah menerima permintaan pertemanan dari nya namun tak kunjung satu chatpun saya kirim, begitu pula chat yang saya terima darinya. Selang 3 hari kemudian bbm saya menerima notifikasi dengan emotikon (Y) untuk status yang saya buat “60 hari menjelang bulan Ramadhan”. Bagai api yang disulur bensin, saya pun mulai mengirim pesan dari yang sederhana, hingga kata – kata yang agak panjang. Namun tidak dengan lelaki yang walaupun senior saya dikampus namun saya anggap lelaki yang baru saya kenal karena saya sama sekali tidak pernah terlibat obrolan dengannya.

Banyak cara yang Allah rencanakan untuk kita menghargai sebuah proses.

Menjadi diri Sendiri

Menjalin komunikasi lewat chat bbm, kemudian berlanjut ke chat Wa, dan hingga pertemuan yang direncanakan. Pada tahun 2016 di bulan Mei ada libur yang lumayan panjang di minggu pertama, dan sedang booming film AADC, moment itu dipergunakan untuk pertemuan langsung bagi 2 orang yang hanya ngobrol via chat. Canggung jelas, melihat satu sama lain secara langsung kemudian nonton film, dan dilanjutkan dengan duduk berhadapan disalah satu warung kopi di salah satu mall kota Medan. Obrolan yang saya ingat dan membuat saya respek kepada abang senior yang jujur tidak saya ingat saat kuliah dulu adalah tentang bagaimana seorang anak laki-laki dengan antusias menceritakan sosok orang tuanya. Dan bagi saya apabila seorang anak dapat menceritakan sosok orang tuanya dengan penuh keyakinan, itu berarti anak tersebut lahir dan dibesarkan dikeluarga yang hebat. Pertemuan pertama yang sedikit memalukan sebenarnya, karena saya tak merasa saya harus tampil sempurna melainkan apa adanya saja. Dan seharusnya begitu, karena jika apa adanya saya membuat sesorang menjauh dari saya itu berarti pertanda bahwa ada orang lain yang akan menjadi jodoh saya.

Berserah Kepada Allah SWT

Abang senior yang perlahan mulai saya kenal, dan mulai membangun kisah dihari – hari saya. Namun ada kalanya saya berfikir bahwa apa yang saya lakukan adalah harapan semu. Mungkin saja lelaki itu adalah lelaki kesepian yang sedang menabur jala seolah ingin menjaring ikan, dan ikan yang terjaring akan  di sortir hingga menetapkan satu pilihan, begitu pula dengan saya. Walaupun saya saat itu hanya menjalin komunikasi dengannya,  berharapan “Allah memberi petunjuk tentang jodoh kepada saya”

Enam puluh hari berlalu, dan malam Tarawih pertama telah tiba, disaat itu juga saya mengirimkan chat via Wa yang bermaksud mengakhiri komunikasi selama satu bulan, di bulan Ramdhan agar ibadahnya satu sama lain khusyuk. Padahal kalau saya fikir untuk apa mengirim pesan seperti itu. Namun maksud pesan tersebut di terima dengan jelas oleh lelaki yang sama sekali tidak mengirimi saya pesan apapun selama satu bulan full. Disatu bulan yang bagi saya tak hanya menahan haus lapar namun saya juga harus sabar untuk menepati permintaan saya untuk tidak berkomunikasi dengan lelaki yang namanya saya masukkan dalam tulisan di agenda saya, dan dalam doa saya.

“jika dia adalah yang terbaik dekatkan kami Ya Allah, mudahkan segalanya dan ringankan langkahnya untuk Lebaran nanti bersilaturahmi kerumah orang tua saya, Aamiin”

Doa dan harapan saya terjawab sudah hingga akhirnya saya tahu bahwa Allah tidak meringankan langkahnya untuk bersilaturahmi kerumah saya saat Lebaran sesuai doa saya. Bahkan saat seharusnya kami bisa bertemu, malah kami tidak bertemu sama sekali.

Obrolan di chatpun mulai berkurang karena saya merasa jika memang bukan lelaki ini buat apa harus mengahbiskan waktu dengan terus berharap. Saya membatasi komunikasi, dan tak disangka ketika saya mengikhlaskan nya sebagai yang terbaik, lelaki yang humoris ini malah menunjukkan respon yang tak dideuga sebelumnya. Menjadi lebih aktif mengirim pesan, membuka topik obrolan dan hingga akhirnya saya tak tau lagi harus melanjutkan berharap atau berpasrah. Allah SWT memang Maha membolak balik – kan hati dan perasaan manusia. Subhanallah

Berusaha, Berjuang dan Berdoa

Titik terang mulai terlihat,tidak adalagi kode-kode dibali setiap chat yang kami kirim. Kami memberi ruang satu sama lain untuk saling mengenal secara rinci dengan metode pertanyaan yang saling kami ajukan dan kami jawab dengan jujur tanpa ada maksdu untuk saling menarik simpati. Taaruf? mungkin ini jauh dari kata taaruf, namun kami tidak saling bertemu karena jarak tempat kami berada saling berjauhan, kami juga tidak saling telponan hanya sebatas kata – kata yang kami tulis dalam chat melalui bbm dan Wa. Satu bulan kami rasa cukup untuk saling mengajukan pertanyaan, dan dibulan September 2016 lelaki yang saya tak saya duga namun beberapa waktu terakhir saya harapkan untuk bersilaturahmi kerumah saya, bertemu dengan orang tua saya akhirnya benar-benar terwujud. Lelaki itu datang bersilaturahmi sebagai seorang teman, dan saya pun demikian datang kerumahnya sebagai seorang teman. Namun jelas pada saat itu kami sudah melihat titik terang dari komunikasi yang kami jalin beberapa bulan terakhir ini.

Saat kemantapan hati telah dirasa, ternyata Allah memberi sebuah ujian bagi kami, khususnya saya. Menerima kenyataan bahwa disaat titik terang telah berbuah rencana manis, hal pahit pun datang. Begitu cepat waktu yang berlalu, begitu cepat pula kondisi berganti, saya yang merasa sehat, ternyata harus ikhlas menerima kenyataan bahwa dirahim saya menempel miom yang cukup besar ukurannya, disatu sisi saya bingung bagaimana menyampaikan kepada orang tua saya akan kondisi kesehatan saya, disatu sisi lagi saya sebagai seorang wanita sedang menerima ujian besar dari Allah SWT dengan mimpi saya menjadi seorang ibu. Ikhtiar untuk sembuh saya lakukan, derai air mata terus menurus mengiringi doa – doa saya kepada Allah SWT. Saya ingin yang terbaik untuk orang orang yang saya sayangi termasuk lelaki itu.

Hal besar harus saya putuskan demi pengobatan saya, keyakinan akan Allah Maha penolong bagi setiap hambanya, saya berikhtiar untuk sembuh dan mempertahamkan rahim saya apapun resiko yang akan saya hadapi, hingga akhirnya Allah memberi saya jalan bertemu dengan dokter ahli untuk penyakit yang saya derita. Operasi pengangkatan miom dan tetap mempertahankan rahim adalah pilihan yang ditawarkan pada saya. Beberapa hari sebelum saya melakukan operasi miomektomi saya memberanikan diri untuk menghubungi lelaki yang berencana melamar saya dibulan depan. Dengan sedikit menahan derai air mata saya hanya bisa sampaikan bahwa untuk satu bulan kedepan saya akan menghilang untuk menyembuhkan penyakit yang nanti akan saya jelaskan apa penyakit yang saya derita. Lelaki itu bertanya namun tidak memaksa dan mengiyakan segala permintaan saya.

Saya pun hilang dari peredaran, tidak mengaktifkan alat komunikasi, dan memperbanyak membaca buku-buku sambil terus berdoa menata hati. Operasi yang saya lakukan Alhamdulillah lancar, dan hasil biobsi  jaringan miom tidak menunjukkan indikasi berbahaya dan dokterpun menyatakan “kesuburan saya sama sekali tidak terganggu”

Ujian yang Allah SWT berikan benar sesuai dengan kemampuan hambanya, dan saya bersyukur hal tersebut. Saya mulai memberi kabar kepada laki – laki yang dengan sabar menunggu kabar saya dalam satu bulan terakhir ini. Bagai kisah FTV saya menceritakan secara detail apa yang saya alami, dengan segala kemungkinan yang terjadi. Allah SWT Maha Tahu atas segala hal, dengan segala kondisi dan kemungkinan yang ada pada diri saya, lelakin ini tetap melanjutkan niatnya untuk melamar saya. Ya Allah sungguh besar kuasaMu.

Yakin untuk Menikah 

Berulang kali saya bertanya, “benarkah saya akan menikah?”, solat istikhorah meminta keykinan dari Allah SWT, dan sungguh segalanya sangat dipermudah. mudah bukan berarti berjalan tanpa hambatan, tetap ada hambatan namun tetap ada juga solusi untuk itu. Dari persiapan yang hanya 47 hari menjelang hari pernikahan, persiapan yang sederhana namun tetap syahdu karena nikah bukan karena WAH melainkan SAH, drama hilangnya cincin mahar pernikahan, dan drama – drama kecil menjelang pernikahan.

Saya dan calon suami hanya berkomunikasi lewat alat komunikasi karena hal pekerjaan saya  dan calon suami bertemu disaat hari H pernikahan kami tanggal 10-12-16.  Banyak teman – teman yang bertanya “kok bisa kalian menikah?”, “kok tiba-tiba nikah?” danpertanyaan yang menunjukkan keheranan dan kebingungan. Saya pun bingung untuk menjawab pertanyaan itu semua, karena yang punya Kuasa dalam pernikahan saya dan suami adalah Allah SWT.

saya yakinkan diri saya bahwa jodoh yang tepat telah hadir diwaktu yang tepat, untuk itu saya bersyukur untuk kesempatan menjadi seorang istri yang diberikan Allah SWT bagi saya. masalah benarkah keyakinan saya akan jodoh? saya hanya berpasrah kepada Allah SWT, bukankah kehidupan dunia hanya sementara, dan kini sebagai seorang istri syurga akan hadir dari ridho suami saya. Semoga dengan bersama surga akan lebih dekat untuk saya dan suami.

Terakhir saya ingin sampaikan bahwa jodoh akan datang tepat waktu, tugas kita hanya berusaha untuk merayu Allah agar diberi kemudahan untuk bertemu dengan sang jodoh, tetap ikhtiar secara wajar dan sesuai syariat islam, jangan malu untuk meminta bantuan orang lain sebagai perantara (kalau bisa taaruf lebih baik, jangan ditiru metode perkenalan saya dan suami yang jauh dari kata taaruf), dan tetap berbuat baik khususnya kepada orang tua.

Semoga yang belum bertemu jodohnya segera dipertemukan

yang sudah bertemu jodohnya, diberi kemudahan hingga hari H

salam bahagia

dari perayu Allah SWT 🙂

IMG_9057

Kami yang akan terus berjuang Melangkah bersama menuju Jalan yang diridhoi        Allah SWT

 

 

Advertisements